WILLY RAWUNG, SAHABAT INTELEKTUAL DAN KULTURAL
PERKENALAN saya dengan Willy Rawung diawali dengan “perjumpaan fungsional”: antara redaktur opini dan penulis artikel. Di awal berkarir sebagai wartawan di Manado Post, saya menjalankan tugas sebagai reporter sekaligus menjadi penanggung jawab rubrik opini. Willy Rawung merupakan salah satu penulis aktif dan produktif selama saya menjalankan tugas sebagai redaktur opini.
Menghidupkan rubrik opini tidak mudah. Di awal bertugas, di pertengahan tahun 1991, bahkan hingga 1993, saya harus mewawancarai “para calon” penulis artikel. Selanjutnya saya ramu menjadi “tulisan jadi” untuk ditayangkan setiap hari di halaman opini.
Willy Rawung adalah penulis artikel dengan tulisan yang sudah matang. Selain senang karena sangat terbantu, tulisan-tulisan Willy bernas, kaya ide orsinil, punya otentitas, berani, dan disajikan dengan gaya yang asyik. Jadilah saya punya dua manfaat: pekerjaan lebih mudah sambil mendapatkan wawasan yang kaya dan gagasan-gagasan segar tentang berbagi aspek.
Dari 41 artikel karya Willy Rawung di Harian Manado Post, mayoritas dipublikasikan di masa saya menjalankan tugas sebagai redaktur opini. Beberapa di antaranya dipublish saat saya sudah menjadi Pemimpin Redaksi, dan beberapa lagi saat saya sudah tidak terlibat dalam pengelolaan operasional redaksi Manado Post.
Keseluruhan artikel yang tayang di Manado Post ditulis dalam rentang tahun 1992-2026. Sebagian besar artikel ditulis yang dipublikasikan pada 1997-1999, sebanyak 11 artikel ditayangkan tahun 1992-1993, dan sembilan tulisan dipublikasikan periode tahun 2000-2026.
Periode 1992-1993 merupakan salah satu masa pergolakan intelektual di masa orde baru, fase munculnya banyak pemikiran kritis, berani dan “berbeda” dari arus utama kendali kokoh negara terhadap berbagai aspek kehidupan. Sementara periode 1997-1999 masa reformasi dan awal reformasi. Periode 2000-2026, perjalanan panjang pasca reformasi.
Meski artikel-artikel tersebut ditulis dan dipublish dalam tiga periode yang berbeda, tetapi benang merahnya terletak pada dua hal: kegelisahan intelektual dan kekuatan pada akar kultural. Boleh dikatakan, itulah ciri utama yang menonjol dan menjadi kekuatan dari tulisan-tulisan Willy Rawung. Sekaligus membuat saya salut dan memberi apresiasi yang tinggi pada seluruh tulisan Willy yang dipublikasikan di Manado Post: intelektualitas yang berakar kuat pada pondasi kultural.
Saya memaknai perjumpaan dan pergaulan dengan Willy Rawung sebagai “sahabat intelektual dan kultural”. Tidak ada perjumpaan fisik hingga hampir sepuluh artikel Willy tayang di Manado Post. Tetapi sejak membaca artikelnya yang pertama, saya sudah merasakan denyut persahabatan. Karena itu semua tulisan Willy yang dipublikasikan di Manado Post hampir tidak ada yang saya edit.
Makin banyak tulisan yang dikirim dan dipublikasikan di Manado Post, kian tebal “rasa persahabatan intelektual dan kultural” dengan Willy. Hingga suatu ketika, Willy dan Max Wilar berkunjung ke dapur redaksi Manado Post di sudut Lapangan Tikala Manado. Saya makin akrab dan terdorong menyelami pribadi Willy yang khas: tak pernah berhenti mengasah intelektualitas dengan terus menjaga, merawat dan melanggengkan nilai-nilai kultural yang dia yakini dan pegang teguh.
Suatu waktu Willy liburan pulang kampung. Saya menjumpainya, bersilahturahmi di rumahnya di Pakuure, Tenga, Minahasa Selatan. Pada kunjungan itu, saya menyaksikan dan merasakan sikap natural Willy di kampung dan rumah panggung khas Minahasa milik keluarganya. Sikap natural yang tetap memegang teguh nilai-nilai kultural itu saya jumpai dan rasakan saat bertemu, berdiskusi atau sekadar bercengkrama dengan Willy dalam banyak kesempatan di Jakarta.
Itulah Willy Rawung, seorang sahabat intelektual dan kultural yang konsiten sejak awal saya “berjumpa” lewat tulisan-tulisannya. Silahkan dan ayo menikmati tulisan-tulisan Willy yang bernas, kaya gagasan, beragam wawasan dan memberi banyak inspirasi dalam buku ini.
Di moment dan hari yang spesial ini, dari lubuk hati terdalam saya menyampaikan untuk sang sahabat: Selamat Merayakan Hari Ulang Tahun. Sungguh merupakan Karunia Tuhan yang luar biasa mencapai usia 80 tahun.
Terus berkarya dan memberi inspirasi sebagai seorang “sahabat intelektual dan kultural” di usia beyond 80 tahun.
Makassar, 8 Juni 2026
Drs. SUHENDRO BOROMA, MSi
CEO Jawapos Grup