Dengan perspektif bagaimanakah kita dapat setepatnya mencermati dan maka bisa mendayagunakan karya-karya pemikiran Willy H. Rawung? Ia aktivis matang dengan sejarah berkiprah yang terbilang amat panjang (masih remaja sudah mengetuai gerakan politik siswa bermassa besar), tapi juga ia pebisnis matang dengan pengalaman lapangan yang terbilang amat luas (masih usia belia ia sudah menangani sederet usaha niaga bernilai finansial besar); tetapi juga, dengan kiprah politik dan bisnis di ranah yang bersifat serba praktikal dan yang pula dijalaninya secara intens itu bukan berarti ia jauh dari cakrawala teoretikal, sebaliknya ia malah dikenal di kalangan yang lebih luas sebagai pemikir. Ia seorang intelektual publik. Dan ruang yang terentang di antara dua kutub itu — meminjam term Aristotelian: praxis dan thêoria — pun tentu menjadi sederet posisi dimana Willy Rawung eksis dengan pelbagai predikat lain. Cukup banyaknya predikat yang memang pantas disandangnya itu pun terlukis gamblang pada esai-esai yang terhimpun dalam buku ini: betapa sangat beragamnya bidang minatnya.
Tetapi, di antara banyak predikat fungsi sosial yang disematkan kepadanya, saya mementingkan predikatnya sebagai: budayawan-sejati-Minahasa-sejati. Budayawan-sejati, bukan sekadar bergaul dengan artifak budaya lalu sudah disebut ataupun mengaku “budayawan”, juga bukan sekadar penyandang gelar akademis formal bidang kebudayaan namun minus tanggung-jawab budaya. Minahasa-sejati, bukan sekadar berdarah Minahasa dan punya jabatan formal dalam organisasi keminahasaan namun in fact berwawasan-nilai yang justru bertentangan dengan nilai-nilai keminahasaan.
Mustahaknya serta mustajabnya perspektif budayawan-Minahasa-sejati — yang tak jarang dipandang dengan sebelah mata sebagai cuma budaya lokal oleh masyarakat Minahasa sendiri — bisa dilihat dalam skala problematika kebudayaan global dan nasional. Skala global menunjukkan kepada kita proses dehumanisasi seiring mendominasinya budaya portable (tanpa dasar pijakan, gampang dipermainkan arus mode sesaat) yang terviralisasi oleh teknologi informasi digital: nir-kebenaran malah dibanggakan sebagai Post-Truth, sirnanya dimensi keagungan universal ke dalam bukan saja multiversal melainkan lobang-hitam metaversal, pendangkalan wacana yang jauh lebih dangkal mengerikan daripada yang dulu diamati Heidegger sebagai kutukan modernitas. Pendek kata, sudah dan sedang berlangsung proses subhumanisasi… kendati oleh Wiener perintis sibernetika teknologi akal imitasi ini dibasiskan pada realitas bahwa bahkan mesin-mesin pun bisa saling berkomunikasi berkat cinta-kasih.
Lalu bagaimana kondisi budaya nasional? Pada awal dasawarsa terakhir abad ke-20, terjadi sebuah peristiwa kebudayaan yang sangat menyedihkan: Kongres Kebudayaan Indonesia 1991. Kendati dipersiapkan dengan begitu arif dan niat luhur — soalnya sempat absen selama lebih tiga puluh tahun — ternyata tersapu dengan ringannya oleh kebodohan para budayawan nasional bersama para guru besar ilmu budaya. Kebodohan yang berbuah ketidakpahaman tentang, dan maka ketakjuban pada, filsafat Post-Modernisme/Post-Strukturalisme… yang saat itu mereka maknai sebagai: klaim kebenaran adalah dosa.
Segala kengawuran dan kemelanturan kultural seperti itulah yang tidak akan kita jumpai dalam sosok Tou Minahasa Willy H. Rawung — baik tindakannya, maupun ucapannya, juga buah pikirannya dalam tulisan-tulisannya.
Jakarta, 12 Juni 2026
Dr. BENNI E. MATINDAS.
Peneliti Kebudayaan, Pengajar Filsafat