Resensi - Ayub D P Junus


MENJAGA INGATAN, MERAWAT GAGASAN


Ada tokoh-tokoh yang dikenal karena jabatan yang pernah mereka emban. Ada pula tokoh yang dikenang karena gagasan dan jejak pemikirannya. Bagi saya, Bapak Willy Hendrik Rawung termasuk dalam kelompok yang kedua.


Perkenalan saya dengan beliau bermula ketika saya masih menjadi bagian dari generasi yang lebih muda dalam komunitas perantau Minahasa di Jakarta. Saat itu saya aktif dalam berbagai kegiatan organisasi, termasuk ALUMANDO (Alumni & Ex-Guru SMA Negeri 1 & 2 Manado di Jakarta), sebuah organisasi yang turut dirintis dan dibangun oleh Bapak Willy Rawung bersama rekan-rekan seangkatannya.


Melalui organisasi tersebut, saya mulai mengenal sosok beliau sebagai aktivis, organisator, dan pemikir yang memiliki kepedulian besar terhadap masyarakat Minahasa, Sulawesi Utara, serta Indonesia. Beliau termasuk generasi yang tumbuh dan berproses dalam dinamika organisasi kepemudaan, organisasi kemasyarakatan, organisasi budaya, serta dunia politik nasional. Pengalaman panjang tersebut tercermin dengan jelas dalam tulisan-tulisannya yang terkumpul dalam buku ini.


Buku ini bukan sekadar kumpulan artikel. Buku ini adalah rekaman perjalanan intelektual seorang anak Minahasa yang selama puluhan tahun memilih pena sebagai sarana untuk menyampaikan gagasan, kritik, harapan, dan kecintaannya terhadap tanah kelahirannya.


Melalui artikel-artikel yang ditulis sejak tahun 1987 hingga 2026, pembaca dapat mengikuti perjalanan sejarah bangsa dari sudut pandang seorang pelaku sekaligus pengamat. Kita diajak menyaksikan bagaimana beliau memandang persoalan demokrasi, kepemudaan, reformasi politik, pemerintahan daerah, budaya Minahasa, otonomi daerah, hingga refleksi historis mengenai PERMESTA dan tokoh-tokoh bangsa.


Yang menarik, meskipun banyak tulisan beliau berbicara mengenai Minahasa, perspektif yang digunakan tidak pernah sempit atau eksklusif. Sebaliknya, beliau selalu menempatkan Minahasa sebagai bagian dari Indonesia dan Indonesia sebagai rumah bersama yang harus terus diperjuangkan agar menjadi lebih demokratis, lebih adil, dan lebih manusiawi.


Sebagai generasi yang lebih muda, saya merasa bangga bahwa Minahasa dan Sulawesi Utara memiliki tokoh seperti Willy Rawung. Di tengah perubahan zaman, ketika tradisi menulis semakin tergeser oleh budaya komunikasi yang serba singkat, beliau tetap konsisten menggunakan tulisan sebagai sarana pendidikan publik dan pembentukan kesadaran masyarakat.


Banyak tulisan dalam buku ini lahir pada masa ketika menyampaikan kritik secara terbuka bukanlah hal yang mudah. Sebagian ditulis pada era Orde Baru, sebagian lainnya pada masa transisi Reformasi yang penuh gejolak. Karena itu, artikel-artikel tersebut bukan hanya memiliki nilai intelektual, tetapi juga nilai historis yang penting sebagai dokumentasi pemikiran dan suasana zaman.


Penerbitan buku ini menjadi sangat berarti karena menyelamatkan berbagai tulisan yang sebelumnya tersebar dalam lembaran koran dan majalah selama hampir 4 dekade. Dengan dihimpunnya seluruh tulisan tersebut dalam satu buku, generasi sekarang dan generasi yang akan datang dapat membaca kembali gagasan-gagasan yang pernah turut membentuk percakapan publik di Sulawesi Utara dan di Indonesia.


Saya berharap buku ini tidak hanya menjadi arsip pemikiran seorang Willy Rawung, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi generasi muda Minahasa untuk terus berpikir kritis, mencintai budayanya, menghargai sejarahnya, dan tetap berkontribusi bagi bangsa dan negara.


Selamat kepada Bapak Willy Rawung atas diterbitkannya kumpulan karya ini. Semoga buku ini menjadi warisan pemikiran yang terus hidup dan bermanfaat bagi banyak orang.



Jakarta, 8 Juni 2026


Dr. (Cand.) AYUB D.P. JUNUS, M.Sc.

Konsul Jenderal Kehormatan Republik Latvia di Jakarta & Ketua Umum Perkumpulan Perhimpunan Tou Minahasa